Hasil Karya Tenun Lombok

0

Bagi orang Sasak yg adalah masyarakat ori Pulau Lombok, kain tenun mengenai dgn tidak sedikit factor dalam budaya mereka.
Para petenun berulang kali melafalkan ”subhanallah”, Maha Suci Allah, diwaktu mengerjakan motif kuno yg luar biasa rumit. Begitu pun para pemakainya. Mereka spontan mengucapkan ”subhanallah” waktu menyaksikan hasil karya kain tenun lombok yg begitu indah.

Dari ungkapan kekaguman pada kebesaran Allah itu, lahirlah motif yg dinamakan subahnale. Motif subahnale berupa susunan geometris sudut enam seperti sarang lebah dgn isian bunga. Motif ini ialah salah satu motif kuno di Lombok. Kerumitan & keindahan motifnya dipercaya dunia.

Kain-kain paling baik itu diperlukan buat upacara husus atau beribadah. Seperti yg dikenakan pasangan Samsudin (30) & Aliyah (30) yg melakukan upacara di Desa Labuapi, Kecamatan Labuapi, Kab Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pertengahan Oktober dulu.

Pengantin wanita mengenakan kain tenun songket bermotif subahnale bertumpal dipadu kebaya modifikasi yg panjang menjuntai sampai mata kaki. Pengantin laki laki memakai kain songket motif mirip.

Pasangan bahagia itu tidak sedikit menebar senyum. Meskipun wajah berhias peluh, keduanya melangkah penuh yakin diri dibawah naungan payung bernuansa emas. Musik tradisional Lombok menemani langkah keduanya yg diiringi puluhan kerabat, keluarga, & tetangga.

Dalam penduduk Lombok, terdapat etika yg dinamakan nyongkolan, yakni pengantin laki laki mengantar pengantin wanita mengunjungi rumah orangtuanya sesudah rangkaian akad nikah & resepsi dilaksanakan. Rombongan pergi menumpang mobil dulu turun buat terjadi kaki kala jelang rumah orang tua pengantin wanita.

Para pengiring pun mengenakan pakaian lambung yg terbuat dari kain tenun hitam polos bersama pinggir berhias kain songket dipadu bawahan berupa kain tenun ikat atau songket. Kain ini dikenakan di pinggang dgn pertolongan lilitan sabuk anteng, semacam setagen berupa kain tenun ikat bermotif segitiga.

Biarpun telah jauh menyusut lantaran argumen kepraktisan, kain tenun di Pulau Lombok tetap digunakan dalam upacara kebiasaan. Seperti terhadap program peraq api atau puput pusar bayi, berkuris (mencukur rambut bayi), sorong serah aji krama (penyerahan kain tenun dari keluarga mempelai laki-laki terhadap keluarga istri), & besunat (khitan).

Utk kebutuhan sehari-hari, kain tenun difungsikan utk menggendong anak, selimut, beribadah, & penutup jenazah. Pendek kata, layaknya kain tenun di belahan Nusantara, kain tenun Lombok pula mewarnai perjalanan hidup seseorang manusia sejak lahir sampai mati.

Budayawan Lombok, L Agus Fathurrahman, menjelaskan, bagi orang Sasak sebagai warga ori Pulau Lombok, kain tenun berkenaan bersama tidak sedikit factor dalam budaya mereka. Bahkan, buat menenun mesti didahului dgn upacara walaupun waktu ini telah tidak lagi dijalankan, kecuali di sekian banyak daerah buat pengerjaan kain umbaq.

”Seseorang lahir dibuatkan tenun umbaq berupa kain bermotif garis-garis dgn rumbai yg diikat dgn kepeng bolong atau duit logam berlubang. Kain yg dimanfaatkan utk menggendong anak ini sbg simbol kasih sayang & penuntun hidup. Kain ini dipegang (disimpan) si anak sampai beliau wafat,” kata Agus.

Di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kab Lombok Tengah, wanita masihlah mengikuti aturan rutinitas bahwa mereka baru diperbolehkan menikah jikalau telah pandai menenun. Mereka disyaratkan utk menenun setidaknya satu helai kain yg kelak bakal diberikan pada calon suami, seperti disampaikan Lale Mainah (67) yg menenun sejak umur 12 th. Beliau menciptakan dua lembar kain utk calon suami & dia sendiri.

Tapi, tidak seluruh wanita Sasak memegang teguh rutinitas ini. Wanita di Desa Ungga, Lombok Tengah, telah tak terlampaui terikat dgn etika ini. Walaupun begitu, mempelajari menenun telah jadi rutinitas di Lombok yg dimulai sejak anak wanita berumur belasan th. Terlebih seterusnya terasa manfaatnya, keterampilan menenun mampu dijadikan jawaban memenuhi keperluan ekonomi keluarga biarpun tak seluruh menjadikannya sandaran penting.

Waktu periode tanam & panen, gerakan menenun kebanyakan berakhir dikarenakan wanita turun ke sawah. Upah dari bekerja di sawah mencapai Rp25.000 per hri. Bandingkan bersama menenun yg dalam sebulan cuma mendapat Rp200.000 – Rp500.000 sebab biasanya seorang cuma sanggup menyelesaikan satu kain tenun dalam satu bln.

Tenun ikat & songket mendominasi wajah kain tenun di Pulau Lombok. Tenun songket bersama ragam hias yg tajir ornamen tidak sedikit dijumpai di Lombok Barat & Tengah yg menyebar di Desa Getap, Kecamatan Cakranegara & Desa Sukadana, Kecamatan Bayan di Lombok Barat juga Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya & Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat di Lombok Tengah.

Berlainan bersama tenun songket dari daerah lain yg tidak sedikit dihiasi benang perak & emas, tenun songket di Lombok lebih tidak sedikit memanfaatkan benang katun berwarna-warni. Tenun ikat lebih tidak sedikit ditemui di Lombok Timur, seperti di Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, & Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela.

Para petenun pula telah tak lagi mendalami arti & makna motif kain tenun. Ani (34), petenun dari Desa Ungga, menyatakan sekian banyak motif kuno yg diketahuinya, seperti subahnale, keker (ayam), bln merindu, & bunga kabut.

Tapi, dirinya mengaku tak mengerti makna tiap-tiap motif. Petenun lebih sepuh seperti Lale Mainah (67) & Lale Sarinah (57) juga kesusahan menyatakan nama-nama motif & maknanya biarpun sesungguhnya motif kuno tenun Lombok berjumlah pass tidak sedikit.

Dosen Acara Studi Kriya, Jurusan Seni Rupa & Design, Institut Technologi Bandung, Ratna Panggabean yg memahami tenun Lombok mengemukakan, sama seperti di daerah lain, ragam hias tenun di Lombok tidak sedikit dipengaruhi unsur kepercayaan & lingkungan lebih kurang. Menjadi, terhadap periode awal, muncul bentuk-bentuk ragam hias manusia, fauna, & flora yang merupakan hasil pengaruh animisme & dinamisme pun agama Hindu.

Sesudah Islam masuk, ragam hias menghindari wujud makhluk hidup. Tapi, sekian banyak ragam hias menunjukkan terjadinya akulturasi seperti motif bunga lotus terhadap sektor dalam sisi enam subahnale.

Dalam buku Kain Tenun Tradisional Nusa Tenggara karya Suwati Kartiwa disebutkan, kain tenun Lombok mewarisi sekian banyak ciri yg sama dalam perihal corak & warna dgn tenun Bali, terutama yg berkembang di sektor barat Lombok. Tetapi, corak hias Lombok tak segede Bali & tak sempat serta menggunakan benang emas.

”Jangan sempat Lombok menciptakan kain seperti corak Bali. Tetaplah bersama ciri khas Lombok yg mempunyai karakter lebih geometris walaupun pasar Bali benar-benar lebih gede. Bersama demikian, tenun Lombok bakal berkukuh.

Leave A Reply

Your email address will not be published.